Dalam diskursus fiqh, ulama mazhab sepakat dengan standar 85 gram emas hasil dari konversi 20 dinar. Namun demikian terjadi perbedaan pendapat (khilaf) maksud 85 gram tersebut apakah harus dari emas murni atau boleh dengan campuran lainnya. Sebagaimana berikut:
1. Madzhab Syafii dan Hambali: Emas Murni (24k)
Mengutip penjelasan Abdurrahman al-Jaziri
dalam kitab Al-Fiqh
’ala al-Madzahib al-Arba’ah:
إذا ﻛﺎن اﻟذھب أو
اﻟﻔﺿﺔ ﻣﺧﻠوطﺎن ﺑﺷﻲء آﺧر ﻣن ﻧﺣﺎس أو ﻧﯾﻛل، ﻓﻼ زﻛﺎة ﻓﯾﮭﻣﺎ ﺣﺗﻰ ﯾﺑﻠﻎ ﻣﺎ
ﻓﯾﮭﻣﺎ ﻣن اﻟذھب واﻟﻔﺿﺔ اﻟﺧﺎﻟﺻﯾن
Jika emas atau perak bercampur dengan zat lain seperti tembaga atau nikel, maka tidak ada kewajiban zakat pada keduanya hingga kadar emas atau perak murninya mencapai nishab yang sempurna.
Kutipan di atas mencerminkan sikap kehati-hatian (اﺣﺗﯾﺎط) yang dipegang teguh oleh Madzhab Syafi'i dan Hanbali. Dalam pandangan ini, zakat adalah ibadah yang berkaitan langsung dengan substansi logam mulia (’ain al-mal), sehingga keberadaan logam campuran non-zakat dianggap sebagai "beban berat" yang tidak boleh dihitung dalam penghitungan nishab. Secara teknis, hal ini menuntut adanya proses konversi atau pemisahan nilai netto (murni) sebelum kewajiban zakat ditetapkan.
2. Madzhab Maliki: Melihat Keberlakuan di Pasar
Lebih lanjut, Mazhab Maliki berpendapat bahwa zakat tetap wajib sesuai dengan timbangan 85 gram emas meskipun
kurang kadar kemurniannya, asalkan emas tersebut
masih diterima dalam transaksi
di pasar, jika logam campuran itu sama sekali tidak diterima atau tingkat
penerimaannya lebih rendah dibanding logam murni, maka perhitungan zakatnya
hanya didasarkan pada bagian emas atau perak murni yang terkandung di dalamnya.
Apabila bagian murni itu mencapai nisab yakni 85 gram emas, zakat wajib
dikeluarkan. Jika tidak mencapai nisab, maka tidak ada kewajiban zakat.
اﻟﻣﺎﻟﻛﯾﺔ ﻗﺎﻟوا:
اﻟذھب واﻟﻔﺿﺔ اﻟﻣﻐﺷوﺷﺎن إن راﺟﺎ ﻓﻲ اﻻﺳﺗﻌﻣﺎل رواج اﻟﺧﺎﻟص ﻣن اﻟﻐش وﺟﺑت زﻛﺎﺗﮭﻣﺎ
ﻛﺎﻟﺧﺎﻟص ﺳواء، وإن ﻟم ﯾروﺟﺎ ﻓﻲ اﻻﺳﺗﻌﻣﺎل ﻛرواج اﻟﺧﺎﻟص، ﻓﺈﻣﺎ أن ﯾﺑﻠﻎ اﻟﺻﺎﻓﻲ ﻓﯾﮭﻣﺎ ﻧﺻﺎﺑﺎً
أو ﻻ، ﻓﺈن ﺑﻠﻎ ﻧﺻﺎﺑﺎً زﻛﻲ اﻟﺧﺎﻟص. وإﻻ ﻓﻼ
Madzhab Maliki berpendapat: Emas dan perak
yang bercampur (dengan
logam lain), jika dalam
penggunaannya berlaku (laku/populer) sebagaimana emas dan perak murni, maka
wajib dizakati sama seperti zakat emas/perak murni. Namun, jika keduanya tidak
berlaku (tidak populer) sebagaimana emas/perak murni, maka ada dua kemungkinan:
apakah kadar emas/perak murninya mencapai nishab atau tidak. Jika (kadar
murninya) mencapai nishab, maka yang dizakati adalah bagian murninya saja. Jika
tidak mencapai nishab, maka tidak ada kewajiban zakat.
Mazhab Maliki menitikberatkan pada keberlakuan di pasar:
ﻗَﺎل اﻟْﻣَﺎﻟِﻛِ ﱠﯾﺔُ إِنْ ﻛَﺎﻧَتْ ﻣَﺳْﻛُوكُ اﻟ ﱠدرَاھِمِ وَاﻟ ﱠدﻧَﺎﻧِﯾرِ اﻟْﻣَﻐْﺷُوﺷَﺔِ رَاﺋِﺟَﺔً ﻛَرَوَاجِ ﻏَﯾْرِ اﻟْﻣَﻐْﺷُوﺷَﺔِ ﻓَﺈِ ﱠﻧﮭَﺎ ﺗُﻌَﺎﻣَل ﻛَﺎﻟْﻛَﺎﻣِﻠَﺔِ، ﻓَﺗَﻛُونُ ﻓِﯾﮭَﺎ
Mazhab
Maliki berkata: jika uang dirham dan dinar yang tercampur itu berlaku luas
seperti berlakunya yang tidak tercampur, maka ia diperlakukan seperti yang
sempurna.
Mazhab Maliki menekankan aspek fungsi
sosial dan penerimaan masyarakat. Selama uang tercampur tersebut beredar normal
dan diterima sebagai alat tukar, maka ia diperlakukan seperti uang sempurna dan
dikenai zakat sebagaimana mestinya (Kuwait Ministry of Awqaf and Islamic
Affairs, n.d.).
وذھب اﻟﻣﺎﻟﻛﯾﺔ: إﻟﻰ وﺟوب اﻟزﻛﺎة ﻓﻲ اﻟﻣﻐﺷوش وﻧﺎﻗص اﻟوزن إن راج ﻛل رواج اﻟﻛﺎﻣل ﻓﻲ اﻟﻣﻌﺎﻣﻼت، ﻓﺈن ﻟم ﺗرج أﺻﻼ، أو راﺟت دون رواج
اﻟﻛﺎﻣﻠﺔ، ﺣﺳب اﻟﺧﺎﻟص ﻓﻲ اﻟﻣﻐﺷوش، ﻓﺈن ﺑﻠﻎ ﻧﺻﺎﺑﺎ زﻛﻰ، وإﻻ ﻓﻼ
3.
Madzhab Hanafi: Al-Hukm lil gholib (Sepanjang Dominan Emas, maka Emas)
Dalam kitab Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah (Fikih Berdasarkan Empat Madzhab)
Jilid 1 Halaman 555 dijelaskan:
(١
اﻟﺣﻧﻔﯾﺔ ﻗﺎﻟوا:
ﯾﻌﺗﺑر ﻓﻲ اﻟﻣﻐﺷوش اﻟﻐﺎﻟب ﻣن اﻟذھب أو اﻟﻔﺿﺔ أو ﻏﯾرھﻣﺎ، ﻓﺎﻟذھب اﻟﻣﺧﻠوط(
ﺑﺎﻟﻔﺿﺔ إن ﻏﻠب ﻓﯾﮫ اﻟذھب زﻛﻰ زﻛﺎة اﻟذھب، واﻋﺗﺑر ﻛﻠﮫ ذھﺑﺎً، وإن ﻏﻠب ﻓﯾﮫ
اﻟﻔﺿﺔ، ﻓﺣﻛﻣﮫ ﻛﻠﮫ ﺣﻛم اﻟﻔﺿﺔ ﻓﻲ اﻟزﻛﺎة؛ ﻓﺈن
ﺑﻠﻎ ﻧﺻﺎﺑﺎً زﻛﻲ، وإﻻ ﻓﻼ؛ أﻣﺎ إن
ﻛﺎن اﻟﻐﺎﻟب
اﻟﻧﺣﺎس، ﻓﺈن راج ﻓﻲ اﻻﺳﺗﻌﻣﺎل
رواج اﻟﻧﻘد، وﺑﻠﻐت ﻗﯾﻣﺗﮫ ﻧﺻﺎﺑﺎً زﻛﻲ، ﻛﺎﻟﻧﻘود، وﻛذﻟك ﯾزﻛﻲ زﻛﺎة
اﻟﻧﻘد إن
ﻛﺎن اﻟﺧﺎﻟص
ﻓﯾﮫ ﯾﺑﻠﻎ
ﻧﺻﺎﺑﺎً، ﻓﺈن ﻟم ﯾرج،
وﻟم ﯾﺑﻠﻎ ﺧﺎﻟﺻﮫ ﻧﺻﺎﺑﺎً، ﻓﺈن ﻧوى ﺑﮫ اﻟﺗﺟﺎرة ﻛﺎن ﻛﻌروض اﻟﺗﺟﺎرة، ﻓﯾﻘوم، وﺗزﻛﻰ
اﻟﻘﯾﻣﺔ، .وإﻻ ﻓﻼ ﺗﺟب ﻓﯾﮫ اﻟزﻛﺎة
Mazhab Hanafi berkata: Dalam emas,
perak, atau logam lain yang dicampur, logam yang dominanlah yang dipertimbangkan.
Jika emas dicampur dengan perak, dan emas dominan, maka campuran tersebut
dikenakan zakat sebagai emas, dan seluruh campuran dianggap sebagai emas. Jika perak dominan,
maka seluruh campuran
diperlakukan sebagai perak
untuk tujuan zakat. Jika mencapai nisab (ambang batas minimum), maka zakat
wajib dibayarkan; jika tidak, tidak wajib dibayarkan. Jika tembaga
dominan, maka jika banyak digunakan seperti mata uang dan nilainya mencapai
nisab, maka zakat wajib dibayarkan, seperti halnya mata uang. Demikian pula,
zakat wajib dibayarkan atas mata uang jika kadar kemurniannya mencapai nisab. Jika
tidak banyak digunakan dan kadar kemurniannya tidak mencapai nisab, maka jika
ditujukan untuk perdagangan, maka diperlakukan seperti barang
dagangan. Mata uang tersebut dinilai, dan zakat dibayarkan berdasarkan nilainya; jika tidak, tidak wajib dibayarkan zakat
وﻗﺎل أﺑو ﺣﻧﯾﻔﺔ إن ﻛﺎن اﻟﻐش ﻣﺛل ﻧﺻف اﻟﻔﺿﺔ أو اﻟذھب أو أﻛﺛر ﻓﻼ زﻛﺎة ﺣﺗﻲ ﯾﺑﻠﻎ اﻟﺧﺎﻟص ﻧﺻﺎﺑﺎ،
وإن ﻛﺎن أﻗل وﺟﺑت اﻟزﻛﺎة إذا ﺑﻠﻎ ﺑﻐﺷﮫ ﻧﺻﺎﺑﺎ ﺑﻧﺎء ﻋﻠﻲ أﺻﻠﮫ أن اﻟﻐش إذا ﻧﻘص ﻋن اﻟﻧﺻف ﺳﻘط
ﺣﻛﻣﮫ ﺣﺗﻰ ﻟو اﻗﺗرض ﻋﺷرة دراھم ﻻ ﻏش ﻓﯾﮭﺎ ﻓرد ﻋﺷرة ﻓﯾﮭﺎ ﺳﺗﺔ ﻓﺿﺔ واﻟﺑﺎﻗﻰ ﻏش ﻟزم اﻟﻣﻘرض
ﻗﺑوﻟﮭﺎ وﯾﺑرأ اﻟﻣﻘﺗرض ﺑﮭﺎ وﻟو ﻣﻠك ﻣﺎﺋﺗﯾن ﺧﺎﻟﺻﺔ ﻓﺄﺧرج زﻛﺎﺗﮭﺎ ﺧﻣﺳﺔ ﻣﻐﺷوﺷﺔ ﻗﺎل ﺗﺟزﺋﮫ، ﻗﺎل
اﻟﻣﺎوردي:
وﻓﺳﺎد ھذا اﻟﻘول ظﺎھر واﻻﺣﺗﺟﺎج ﻋﻠﯾﮫ ﺗﻛﻠف وﯾﻛﻔﻰ ﻓﻲ
رده ﻗوﻟﮫ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯾﮫ وﺳﻠم: ﻟﯾس ﻓﯾﻣﺎ دون ﺧﻣس أواق
ﻣن اﻟورق ﺻدﻗﺔ. اﻧﺗﮭﻰ.
Abu Hanifah mengatakan: Jika
campuran dalam perak atau emas itu separuh atau lebih, maka tidak ada kewajiban
zakat sampai bagian yang murni mencapai nisab. Namun jika campurannya kurang
dari separuh, maka zakat wajib jika seluruhnya (termasuk campuran) mencapai
nisab. Pendapat ini didasarkan pada prinsip beliau bahwa campuran yang kurang
dari separuh diabaikan hukumnya. Sehingga, misalnya, jika seseorang meminjam 10
dirham murni, lalu mengembalikan 10 dirham yang mengandung 6 bagian perak murni
dan sisanya campuran, maka pemberi pinjaman wajib menerimanya dan peminjam
bebas dari tanggungan. Begitu pula jika seseorang memiliki 200 dirham murni, lalu mengeluarkan zakatnya berupa 5 dirham
yang mengandung campuran, maka hal itu dianggap sah (Islamweb, 2011).
Ibn Qudamah al-Maqdisi, Al-Mughni, Juz 2, hlm. 302. Beirut:
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
وذھب اﻟﺣﻧﻔﯾﺔ إﻟﻰ أﻧﮫ إذا ﺳﺑك أﺣد اﻟﻧﻘدﯾن ﺑﻐﯾره، ﻓﻣﺎ ﻏﻠﺑت ﻓﺿﺗﮫ أو ذھﺑﮫ ﻓﻛﺎﻟﺧﺎﻟص ﻣﻧﮭﻣﺎ، وﻛذا ﻣﺎ
اﺳﺗوى ﻓﯾﮫ اﻟﻧﻘد وﻏﯾره اﺣﺗﯾﺎطﺎ، وﻣراﻋﺎة ﻟﺣﺎل اﻟﻔﻘراء، وإن ﺳﺑك اﻟذھب واﻟﻔﺿﺔ، ﻓﺈن ﻛﺎن اﻟذھب
ﻏﺎﻟﺑﺎ، ﻓﺎﻟﻛل ﻓﻲ ﺣﻛم اﻟذھب اﻟﺧﺎﻟص، وﻛذا إذا اﺳﺗوﯾﺎ، ﻷﻧﮫ أﻋز وأﻏﻠﻰ ﻗﯾﻣﺔ، وإن ﻛﺎﻧت اﻟﻔﺿﺔ ﻏﺎﻟﺑﺔ، وﺑﻠﻐت ﻧﺻﺎﺑﺎ، ﻓﻔﯾﮫ زﻛﺎﺗﮭﺎ، وإن ﺑﻠﻎ اﻟذھب ﻧﺻﺎﺑﺎ ﻓﻔﯾﮫ زﻛﺎﺗﮫ، وﻣﺎ ﻏﻠب ﻏﺷﮫ
وﻟم ﯾﻛن ﺛﻣﻧﺎ راﺋﺟﺎ، ﺗﻌﺗﺑر ﻗﯾﻣﺗﮫ ﻻ وزﻧﮫ،
ﻓﺈن ﺑﻠﻐت ﻧﺻﺎﺑﺎ ﻣن أﻗل ﻧﻘد، ﺗﻔرض ﻓﯾﮫ اﻟزﻛﺎة إن ﻧوى ﻓﯾﮫ اﻟﺗﺟﺎرة وإﻻ ﻓﻼ.
وذھب اﻟﻣﺎﻟﻛﯾﺔ: إﻟﻰ وﺟوب اﻟزﻛﺎة ﻓﻲ اﻟﻣﻐﺷوش وﻧﺎﻗص اﻟوزن إن راج ﻛل رواج اﻟﻛﺎﻣل ﻓﻲ
اﻟﻣﻌﺎﻣﻼت، ﻓﺈن ﻟم ﺗرج أﺻﻼ، أو راﺟت دون رواج اﻟﻛﺎﻣﻠﺔ، ﺣﺳب اﻟﺧﺎﻟص ﻓﻲ اﻟﻣﻐﺷوش، ﻓﺈن ﺑﻠﻎ
ﻧﺻﺎﺑﺎ زﻛﻰ، وإﻻ ﻓﻼ
Mazhab Hanafi berpendapat bahwa
apabila salah satu dari dua mata uang (emas atau perak) dicampur dengan logam lain, maka logam yang kandungan
perak atau emasnya lebih dominan dihukumi sama
seperti emas atau perak murni. Hal yang sama juga berlaku apabila kadar mata uang asli dan campurannya seimbang, sebagai bentuk kehati-hatian dan pertimbangan terhadap kondisi
masyarakat miskin. Namun, apabila emas dan perak dicampur menjadi satu, dan
emas lebih dominan, seluruh campuran itu dianggap sebagai emas murni. Ketika
kadar keduanya sama, campuran
itu juga dihukumi
sebagai emas murni karena nilai emas lebih tinggi dan
lebih berharga. Jika perak yang lebih dominan dan mencapai nisab, maka zakat
yang dikenakan adalah zakat perak. Sebaliknya, jika emas yang mencapai nisab,
zakat emas yang berlaku. Adapun campuran yang
didominasi bahan lain dan
tidak lagi digunakan sebagai alat tukar yang berlaku, penilaiannya didasarkan pada nilai,
bukan berat. Apabila nilainya mencapai nisab berdasarkan standar mata uang
terendah, maka zakat wajib dikeluarkan jika barang tersebut dimaksudkan untuk
diperdagangkan. Jika tidak, maka tidak ada kewajiban zakat.
وَﻗَﺎل اﻟْﺣَﻧَﻔِ ﱠﯾﺔُ: إِذَا ﻛَﺎنَ اﻟْﻐَﺎﻟِبُ ﻋَﻠَﻰ اﻟْوَرِقِ اﻟْﻣَﺳْﻛُوكِ اﻟْﻔِ ﱠﺿﺔِ ﻓَﮭُوَ ﻓِﻲ ﺣُﻛْمِ اﻟْﻣَﺿْرُوبِ، ﻓَﺗَﺟِبُ ﻓِﯾﮭَﺎ اﻟ ﱠزﻛَﺎةُ
ﻛَﺄَ ﱠﻧﮫُ ﻛُﻠﱡﮫُ ﻓِ ﱠﺿﺔٌ، وَﻻَ ﺗُزَ ﱠﻛﻰ زَﻛَﺎةَ اﻟْﻌُرُوضِ، أَ ﱠﻣﺎ إِذَا ﻛَﺎنَ اﻟْﻐَﺎﻟِبُ اﻟْﻐِ ﱠش ﻓَﻼَ ﯾَﻛُونُ ﻟَﮭَﺎ ﺣُﻛْمُ اﻟْﻔِ ﱢﺿ ﱠﯾﺔِ ﺑَل ﺣُﻛْمُ
اﻟْﻌُرُوضِ، ﻓَﻼَ زَﻛَﺎةَ
ﻓِﯾﮭَﺎ
إِﻻﱠ إِنْ ﻧَوَاھَﺎ ﻟِﻠ ﱢﺗﺟَﺎرَةِ وَﺑَﻠَﻐَتْ ﻧِﺻَﺎﺑًﺎ
ﺑِﺎﻟْﻘِﯾﻣَﺔِ
Mazhab Hanafi berkata: apabila yang dominan pada uang
kertas atau uang logam adalah perak, maka hukumnya seperti uang perak yang
dicetak. Zakat wajib atasnya seakan-akan seluruhnya adalah perak, dan tidak
dizakati sebagai zakat barang dagangan. Adapun jika yang dominan adalah
campuran, maka ia tidak memiliki hukum perak, tetapi hukum barang dagangan.
Tidak ada zakat padanya kecuali jika diniatkan untuk perdagangan dan nilainya
mencapai nisab.
Hal serupa juga disampaikan oleh Jamāl ad-Dīn ‘Abdullāh bin Yūsuf az-Zaila‘i, pada kitab Nashb ar-Rāyah fī Takhrīj Aḥādīth al-Hidāyah. Dalam kitab tersebut, dijelaskan penentuan hukum zakat atas harta yang tercampur dengan unsur lain berdasarkan unsur yang dominan. Jika perak lebih dominan, maka hukumnya mengikuti perak. Jika campuran lebih dominan, maka diperlakukan sebagai barang dagangan dengan syarat nisab dan niat perdagangan.
) وإذا ﻛﺎن ( ) اﻟﻐﺎﻟب ﻋﻠﻰ اﻟورق اﻟﻔﺿﺔ ( ) ﻓﮭو ﻓﻲ ﺣﻛم اﻟﻔﺿﺔ ، وإذا ﻛﺎن ] ص: 437 [ اﻟﻐﺎﻟب ﻋﻠﯾﮭﺎ اﻟﻐش ﻓﮭو ﻓﻲ ﺣﻛم اﻟﻌروض ، ﯾﻌﺗﺑر أن ﺗﺑﻠﻎ ﻗﯾﻣﺗﮫ ﻧﺻﺎﺑﺎ ( ﻷن اﻟدراھم ﻻ ﺗﺧﻠو ﻋن ﻗﻠﯾل ﻏش ; ﻷﻧﮭﺎ ﻻ ﺗﻧطﺑﻊ إﻻ ﺑﮫ ، وﺗﺧﻠو ﻋن اﻟﻛﺛﯾر ، ﻓﺟﻌﻠﻧﺎ اﻟﻐﻠﺑﺔ ﻓﺎﺻﻠﺔ ، وھو أن ﯾزﯾد ﻋﻠﻰ اﻟﻧﺻف اﻋﺗﺑﺎرا ﻟﻠﺣﻘﯾﻘﺔ ، وﺳﻧذﻛره ﻓﻲ اﻟﺻرف إن ﺷﺎء ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ، إﻻ أن ﻓﻲ ﻏﺎﻟب اﻟﻐش ﻻ ﺑد ﻣن ﻧﯾﺔ اﻟﺗﺟﺎرة ﻛﻣﺎ ﻓﻲ ﺳﺎﺋر اﻟﻌروض ، إﻻ إذا ﻛﺎن ﺗﺧﻠص ﻣﻧﮭﺎ ﻓﺿﺔ ﺗﺑﻠﻎ ﻧﺻﺎﺑﺎ ; ﻷﻧﮫ ﻻ ﯾﻌﺗﺑر ﻓﻲ ﻋﯾن اﻟﻔﺿﺔ اﻟﻘﯾﻣﺔ وﻻ ﻧﯾﺔ اﻟﺗﺟﺎرة ، وﷲ أﻋﻠم .
“Dan apabila
yang dominan pada uang perak adalah perak, maka hukumnya mengikuti perak. Dan
apabila yang dominan padanya adalah campuran, maka hukumnya mengikuti barang
dagangan. Dalam hal ini, dipersyaratkan bahwa nilainya mencapai nisab. Karena
dirham tidak pernah terbebas dari sedikit campuran, sebab ia tidak dapat
dicetak kecuali dengan campuran tersebut, namun terbebas dari campuran yang
banyak. Oleh karena itu, kami menjadikan dominasi sebagai pembeda, yaitu
apabila melebihi setengah, dengan mempertimbangkan hakikatnya. Hal ini akan
kami jelaskan dalam pembahasan sharf, insya Allah Ta‘ala. Namun, pada campuran
yang dominan, tetap disyaratkan adanya niat perdagangan sebagaimana pada
seluruh barang dagangan, kecuali apabila dapat dipisahkan darinya perak murni
yang mencapai nisab. Karena pada perak itu sendiri, tidak dipersyaratkan nilai
maupun niat perdagangan. Dan Allah Maha Mengetahui.”
Sementara itu, dalam kitab
Nashb ar-Rāyah fī Takhrīj Aḥādīth
al-Hidāyah yang ditulis oleh Jamāl ad-Dīn ‘Abdullāh bin
Yūsuf az-Zaila‘i menjelaskan tentang takhrij hadis-hadis yang terdapat dalam
kitab Al-Hidāyah karya Al-Marghīnānī. Kitab ini menjadi rujukan utama dalam
fikih mazhab Hanafi, terutama ketika membahas dalil hadis dalam masalah muamalah dan zakat.
وذھب اﻟﺣﻧﻔﯾﺔ إﻟﻰ أﻧﮫ إذا ﺳﺑك أﺣد اﻟﻧﻘدﯾن ﺑﻐﯾره، ﻓﻣﺎ ﻏﻠﺑت ﻓﺿﺗﮫ أو ذھﺑﮫ ﻓﻛﺎﻟﺧﺎﻟص ﻣﻧﮭﻣﺎ، وﻛذا ﻣﺎ
اﺳﺗوى ﻓﯾﮫ اﻟﻧﻘد وﻏﯾره اﺣﺗﯾﺎطﺎ، وﻣراﻋﺎة ﻟﺣﺎل اﻟﻔﻘراء، وإن ﺳﺑك اﻟذھب واﻟﻔﺿﺔ، ﻓﺈن ﻛﺎن اﻟذھب
ﻏﺎﻟﺑﺎ، ﻓﺎﻟﻛل ﻓﻲ ﺣﻛم اﻟذھب اﻟﺧﺎﻟص، وﻛذا إذا اﺳﺗوﯾﺎ، ﻷﻧﮫ أﻋز وأﻏﻠﻰ ﻗﯾﻣﺔ، وإن ﻛﺎﻧت اﻟﻔﺿﺔ ﻏﺎﻟﺑﺔ، وﺑﻠﻐت ﻧﺻﺎﺑﺎ، ﻓﻔﯾﮫ زﻛﺎﺗﮭﺎ، وإن ﺑﻠﻎ اﻟذھب ﻧﺻﺎﺑﺎ ﻓﻔﯾﮫ زﻛﺎﺗﮫ، وﻣﺎ ﻏﻠب ﻏﺷﮫ
وﻟم ﯾﻛن ﺛﻣﻧﺎ راﺋﺟﺎ، ﺗﻌﺗﺑر ﻗﯾﻣﺗﮫ ﻻ وزﻧﮫ،
ﻓﺈن ﺑﻠﻐت ﻧﺻﺎﺑﺎ ﻣن أﻗل ﻧﻘد، ﺗﻔرض ﻓﯾﮫ اﻟزﻛﺎة إن ﻧوى ﻓﯾﮫ اﻟﺗﺟﺎرة وإﻻ ﻓﻼ
Mazhab Hanafi berpendapat bahwa apabila salah satu dari dua jenis uang dicampur dengan selainnya, maka yang dominan perak atau emasnya diperlakukan seperti murni. Demikian pula jika antara uang dan selainnya seimbang, sebagai bentuk kehati-hatian dan memperhatikan kondisi fakir miskin. Apabila emas dan perak dicampur, lalu emas yang dominan, maka seluruhnya dihukumi sebagai emas murni. Demikian pula jika keduanya seimbang, karena emas lebih langka dan lebih tinggi nilainya. Jika perak yang dominan dan mencapai nisab, maka wajib zakat peraknya. Jika emas mencapai nisab, maka wajib zakat emasnya. Adapun yang dominan campurannya dan tidak menjadi alat tukar yang berlaku, maka yang diperhitungkan adalah nilainya, bukan timbangannya. Jika nilainya mencapai nisab dari jenis uang yang paling rendah, maka zakat diwajibkan apabila diniatkan untuk perdagangan. Jika tidak, maka tidak ada zakat.
Dalam Kitab Al-Fiqh al-Islāmī wa
Adillatuhu, Juz 3 Karya Wahbah az-Zuhaili dijelaskan:
ﻗﺎل اﻟﺣﻧﻔﯾﺔ:
ﻏﺎﻟب اﻟﻔﺿﺔ ﻓﺿﺔ، وﻏﺎﻟب اﻟذھب ذھب، وإذا ﻛﺎن اﻟﻐﺎﻟب ﻋﻠﯾﮭﻣﺎ اﻟﻐش، ﻓﮭﻲ ﻓﻲ ﺣﻛم ..،اﻟﻌروض اﻟﺗﺟﺎرﯾﺔ، وﻻ ﺑد ﻣن أن ﺗﺑﻠﻎ ﻗﯾﻣﺗﮭﺎ ﻧﺻﺎﺑﺎً، وﻻ ﺑد ﻓﯾﮭﺎ ﻣن ﻧﯾﺔ اﻟﺗﺟﺎرة ﻛﺳﺎﺋر اﻟﻌروض
Menurut mazhab Hanafi: perhiasan yang mayoritasnya
perak dihukumi sebagai perak, dan yang mayoritasnya emas dihukumi sebagai emas. Apabila
kandungan campurannya (logam selain emas atau perak) lebih
dominan, maka hukumnya seperti barang dagangan.
Mazhab Hanafi menggunakan ukuran
dominasi dan kehati-hatian sosial dalam menentukan status zakat uang tercampur,
dengan memberikan prioritas kepada emas dalam
penilaian hukum karena nilainya dan kelangkaannya dibanding perak, sehingga
penentuan zakat disesuaikan dengan logam yang dominan dan telah mencapai nisab
masing-masing, sementara uang yang dominan campurannya diperlakukan sebagai
barang dagangan yang bergantung pada niat serta nilai pasar.
Setelah menganalisis diskusi mengenai standar nisab zakat pendapatan dan jasa berdasarkan standar emas berdasarkan kemurniannya, pembahasan selanjutnya adalah identifikasi kemurnian emas yang dinyatakan melalui sistem karatase, yaitu sebuah standarisasi internasional yang membagi kadar emas ke dalam 24 bagian. Standar 24 karat diposisikan sebagai representasi emas murni (setara dengan 99,9%). Jika dilakukan penarikan garis hukum (istinbath) dari logika Mazhab Hanafi yang menetapkan bahwa status hukum sebuah logam mulia ditentukan oleh unsur yang dominan (al-ghalabah) maka klasifikasi zakat atas perhiasan masyarakat saat ini dapat dipetakan secara proporsional.
Emas: Al-Hukm Lil Gholib
Tabel 2. Kadar Emas pada Setiap Karatase dan Relevansi Fikih
|
Karatase |
Persentase Emas Murni |
Relevansi Fikih
(Perspektif Dominasi) |
|
24 Karat |
99,90% - 99,98% |
Objek zakat tanpa perselisihan. |
|
22 Karat |
91,67% - 95,82% |
Dominan: Dihukumi sebagai emas (Mazhab Hanafi atau Maliki). |
|
18 Karat |
75,00% - 79,16% |
Dominan: Dihukumi sebagai emas (Mazhab Hanafi atau Maliki). |
|
14 Karat |
58,33% - 62,49% |
Dominan: Masih di atas 50%,
dihukumi emas (Mahzab Hanafi) |
|
12 Karat |
50,00% - 54,15 |
Batas (Ihtiyat): Titik keseimbangan (Mazhab Hanafi: Hati-hati). |
|
9 Karat |
37,50% - 41,66% |
Campuran Dominan: Dihukumi sebagai barang dagangan (Urudl Tijarah). |
Sumber: SNI 8880:2025 Barang-Barang Emas (BSN), diolah DKPN 2026
Jika diskursus fikih yang telah dibahas
sebelumnya diproyeksikan ke dalam standar karatase modern, maka emas 14 karat
muncul sebagai titik penting yang menarik untuk dikaji. Dengan kandungan emas
murni sekitar 58,33 – 62,49%, emas
jenis ini telah melampaui ambang batas simplifikasi hukum dalam Mazhab Hanafi. Karena unsur emasnya tetap menjadi unsur dominan (al-ghalabah), maka secara filosofis, perhiasan dengan kadar 14 karat ke atas dapat diperlakukan sebagai
emas seutuhnya. Hal ini memberikan legitimasi praktis bagi muzakki untuk menghitung nisab
berdasarkan berat total fisik harta (85 gram) dengan tarif zakat 2,5%, tanpa
harus melalui proses teknis pemisahan kadar murni yang rumit.
Argumen ini semakin kokoh jika
disandingkan dengan perspektif Mazhab Maliki. Berbeda dengan pendekatan teknis
karatase, Mazhab Maliki lebih menekankan pada aspek
fungsional dan sosiologis suatu aset. Dalam pandangan ini, kriteria utama
kewajiban zakat bukan terletak pada persentase kemurnian absolut, melainkan
pada akseptabilitas pasar (rawaj). Selama emas dengan karatase tertentu
termasuk 14 karat atau yang lebih rendah diterima secara masif sebagai instrumen penyimpan nilai dan diperjualbelikan dengan
harga stabil di tengah masyarakat, maka logam tersebut sah untuk
dijadikan standar acuan nisab zakat pendapatan dan jasa.
Integrasi kedua mazhab ini memberikan solusi yang lebih adaptif, Mazhab Hanafi memberikan kepastian melalui dominasi unsur, sementara Mazhab Maliki memberikan kelenturan melalui realitas pasar. Pendekatan ini memastikan bahwa standarisasi zakat tetap berpijak pada nilai ekonomi riil yang berlaku di masyarakat, sehingga tujuan zakat sebagai instrumen keadilan.
Mempertimbangkan Peraturan Menteri Agama No 31 Tahun 2019 dan fatwa MUI berkaitan nisab zakat pendapatan dan jasa tidak menyebut spesifikasi kadar karat, sehingga diperlukan bayan at-takhshish untuk menjelaskan lebih lanjut kadar karat emas dalam kewajiban zakat pendapatan dan jasa dalam relevansinya terhadap realitas ekonomi terkini.
Sumber : Buku KAJIAN NISAB ZAKAT PENDAPATAN DAN JASA 2026







0 Comments:
Posting Komentar